Jumat, 26 SEPTEMBER 2025 • 17:25 WIB

Fenomena Ghosting Dalam Dunia Kerja: Apa Dampaknya dan Bagaimana Menghadapinya?

Author

Fenomena Ghosting Dalam Dunia Kerja: Apa Dampaknya dan Bagaimana Menghadapinya?

Fenomena ghosting, yang umum terjadi dalam dunia percintaan, kini merambah ke dunia kerja, menciptakan ketidakpastian bagi banyak pihak.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas

Kandidat pencari kerja dan perusahaan terlibat dalam praktik ini, menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan di dalam proses perekrutan.

Pengertian dan Konteks Ghosting dalam Dunia Kerja

Ghosting merupakan istilah yang berasal dari budaya populer, merujuk pada tindakan menghilang tanpa penjelasan dalam hubungan interpersonal.

Di lingkungan kerja, fenomena ini muncul ketika kandidat tidak merespons tawaran pekerjaan atau perusahaan tidak memberikan kabar setelah wawancara.

Perilaku ini menimbulkan ketidakpastian di kedua belah pihak, dengan para kandidat merasa diabaikan dan perusahaan merasa frustrasi.

Dengan dinamika pasar kerja yang terus berubah, ghosting menjadi semakin umum, terutama di Indonesia, saat perusahaan mencari kandidat berkualitas tinggi.

Dampak Ghosting terhadap Kandidat dan Perusahaan

Dampak ghosting dirasakan baik oleh kandidat maupun perusahaan. Bagi kandidat, kurangnya respon dari perusahaan dapat menurunkan kepercayaan diri dan meningkatkan kecemasan.

Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024

Mereka merasa bahwa usaha yang dilakukan dalam proses melamar pekerjaan menjadi sia-sia ketika tidak ada umpan balik.

Sementara itu, perusahaan mengalami risiko kehilangan reputasi di mata pelamar yang berkualitas, karena mereka merasa tidak dihargai.

Masalah ini mencerminkan kurangnya komunikasi yang efektif dalam hubungan kerja, dengan perusahaan seringkali tidak memiliki mekanisme yang baik untuk memberikan umpan balik.

Solusi dan Pendekatan untuk Mengurangi Ghosting

Untuk mengurangi praktik ghosting, perusahaan perlu membangun komunikasi yang lebih baik dengan pelamar. Standar untuk memberi umpan balik, meskipun kandidat tidak diterima, sangat penting.

Kandidat juga diharapkan untuk memberikan informasi yang jelas mengenai keputusan mereka setelah menerima tawaran.

Dengan kesesuaian antara harapan dan komunikasi yang terbuka, hubungan kerja dapat berkembang lebih baik.

Pelatihan komunikasi bagi tim HR dapat membantu dalam mengurangi fenomena ini, memungkinkan terciptanya lingkungan kerja yang lebih transparan dan saling menghargai.

Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author

Aby

Editor
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU