BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 20:51 WIB

Menjalani Ramadan di Luar Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu Puasa

Menjalani Ramadan di Luar Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu PuasaMenjalani Ramadan di Luar Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu Puasa

Bulan suci Ramadan memberikan pengalaman unik bagi astronaut yang tengah berada di luar angkasa. Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), kondisi siklus siang dan malam sangat berbeda, sehingga penentuan waktu puasa memerlukan penyesuaian tertentu.

Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai

Dengan mengelilingi Bumi sebanyak 16 kali dalam sehari, astronaut tidak dapat menggunakan cara konvensional dalam menjalani ibadah puasa. Hal ini memunculkan tantangan baru dalam menjaga kekhusyukan beribadah di luar angkasa.

Siklus Waktu yang Berbeda di Luar Angkasa

Astronaut di ISS mengalami fenomena unik, yaitu menyaksikan matahari terbit dan terbenam hingga 16 kali dalam 24 jam. Fenomena ini membuat penentuan waktu imsak dan berbuka puasa menjadi sangat tidak konvensional.

Di luar angkasa, konsep waktu menjadi kompleks dan tidak seragam seperti di Bumi, sehingga membutuhkan metodologi baru dalam menentukan waktu ibadah puasa.

Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital

Cara Menentukan Waktu Puasa

Untuk menangani perbedaan waktu ini, astronaut Muslim biasanya merujuk pada waktu tertentu di Bumi. Ada beberapa pendekatan, seperti mengikuti waktu asal, waktu peluncuran, atau waktu yang disepakati sesuai panduan keagamaan.

Pendekatan ini berfungsi untuk menjaga rutinitas ibadah di tengah kondisi luar angkasa yang tidak biasa. Dalam beberapa kasus, astronaut juga diperbolehkan tidak berpuasa selama misi dan menggantinya setelah kembali ke Bumi, sesuai ketentuan agama.

Tantangan dan Upaya Menjaga Ibadah

Selain penentuan waktu, tantangan lain dalam berpuasa di luar angkasa adalah terkait konsumsi makanan. Makanan yang disediakan untuk astronaut dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi di ruang tanpa gravitasi.

Di ISS, mereka mengonsumsi makanan bergizi yang telah disesuaikan dengan berbagai kebutuhan fisik serta aktivitas di luar angkasa. Perencanaan yang matang diperlukan agar kebutuhan energi tetap tercukupi selama menjalani puasa.

Tetap menjaga ibadah dan koneksi spiritual juga menjadi prioritas bagi astronaut. Meskipun jauh dari rumah, mereka berusaha melakukan aktivitas seperti salat dan refleksi spiritual, serta berkomunikasi dengan keluarga melalui video call untuk merasakan lebih dekat dengan kenyataan di Bumi.

Baca juga: Manchester United dan Manchester City Mengincar Kiper Baru Menjelang Penutupan Bursa Transfer

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Menjalani Ramadan di Luar Angkasa: Tantangan Astronaut dalam Menentukan Waktu Puasa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!