Korban Jiwa Akibat Unjuk Rasa di Iran Melampaui 500 Orang
Gelombang unjuk rasa di Iran telah menyebabkan lebih dari 500 orang kehilangan nyawa, berdasar laporan terbaru. Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terus berlanjut di berbagai wilayah selama dua minggu terakhir.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Menurut kelompok hak asasi manusia HRANA, dari angka tersebut, 490 adalah demonstran sementara 48 di antaranya adalah personel keamanan. Selain itu, pemerintah Teheran juga melakukan pemadaman internet yang berimbas pada lebih dari 10.600 orang yang ditangkap.
Unjuk rasa yang meletus sejak 28 Desember 2025 ini dipicu oleh lonjakan harga barang kebutuhan pokok yang memengaruhi ekonomi masyarakat. Hal ini segera berkembang menjadi gerakan politik menentang kepemimpinan ulama di Iran.
Sejak awal, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terus meningkat, dengan banyak laporan mengenai kekerasan dari kedua belah pihak. Situasi ini sangat memprihatinkan, terutama melihat banyaknya korban jiwa di tengah aksi demonstrasi.
Pemerintah Iran merespons unjuk rasa dengan langkah tegas, termasuk melakukan pemadaman internet dan penangkapan terhadap ratusan demonstran. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengendalikan situasi yang semakin tidak terkendali.
Baca juga: Alexander Isak Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas
Ketidakpastian politik dan kekacauan di Iran menarik perhatian internasional, khususnya Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi militer sebagai respons terhadap kekerasan yang terjadi di sana.
Di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyatakan, "Kami sedang melihat ini dengan sangat serius", menunjukkan bahwa berbagai opsi kuat sedang disiapkan untuk intervensi lebih lanjut.
Sumber dari The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa berbagai opsi, termasuk serangan militer langsung dan penggunaan senjata siber, sedang dipertimbangkan di Washington untuk situasi ini.
Kekacauan ini juga mengakibatkan lonjakan harga minyak global. Harga minyak mentah Brent meningkat signifikan, mencapai US$ 63,65 per barel, yang menunjukkan dampak langsung dari ketegangan di Iran, salah satu negara penghasil minyak utama.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai penyebab utama kerusuhan. Ia berupaya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh situasi yang sedang berlangsung.
Pezeshkian mengingatkan, "Saya meminta kepada keluarga: Jangan biarkan anak-anak muda kalian bergabung dengan para perusuh dan teroris yang membakar masjid serta menyerang properti publik", sebagai upaya meredam ketegangan yang semakin meningkat.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: