Menggali Hubungan Rumit Anak dan Ibu: Fenomena Emosional yang Mengguncang
Kebencian yang kadang muncul dalam hubungan antara anak dan ibu bisa jadi sangat membingungkan. Meski seharusnya terjalin kasih sayang, terkadang perasaan negatif muncul akibat harapan yang tidak terpenuhi.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Fenomena ini biasanya terasa lebih mendalam pada masa remaja, di mana anak mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup mereka. Ketika hubungan ini terguncang, berbagai faktor emosional dapat menjadi penyebabnya.
Sebagai figur penting dalam kehidupan anak, peran ibu sering kali penuh harapan. Sabrina Romanoff, PsyD, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa 'seseorang umumnya menyimpan rasa benci terhadap ibunya saat pernah diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti.'
Ketika ekspektasi terhadap dukungan emosional ibu tidak terwujud, itu dapat memicu kemarahan. Dinamika antara cinta dan benci ini menjadi sangat kompleks dan banyak dialami oleh anak-anak.
Penting untuk menggali lebih dalam terkait bagaimana kemampuan seorang ibu dalam memenuhi kebutuhan emosional anak dapat mempengaruhi hubungan mereka. Ketidakpuasan dapat menimbulkan rasa sakit yang mendalam.
Baca juga: Keamanan dan Manfaat Lari Malam: Yang Perlu Diketahui
Pola asuh yang tidak konsisten menjadi salah satu faktor yang bisa memicu rasa benci. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan di mana ibu sering berubah pikiran cenderung merasa tidak dapat mempercayai orang tua mereka.
Menurut penelitian, ketidakpastian ini dapat menyebabkan kecemasan yang berkepanjangan. Rasa tidak diterima dan tidak dicintai ini tentu saja memengaruhi hubungan anak dengan ibunya.
Perasaan terabaikan karena ketidakpastian dalam pola asuh dapat berkontribusi pada pengembangan emosi negatif yang berkepanjangan. Hal ini menjadikan hubungan antara anak dan ibu menjadi rumit.
Komunikasi yang buruk juga berkontribusi pada salah satu sumber masalah dalam hubungan ini. Ketika ibu sering mengkritik dan menuntut, anak mungkin merasa tertekan dan mengalami emosi negatif.
Sabrina menambahkan, 'Rasa dendam yang menumpuk sering berasal dari kemarahan yang belum terselesaikan atas pengabaian serta trauma yang terjadi selama masa kanak-kanak.'
Hal ini menunjukkan pentingnya dukungan emosional dari ibu saat anak membutuhkan. Ketidakmampuan untuk memberikan dukungan dapat memperburuk ketegangan yang ada.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: