Presiden Kolombia Perintahkan Pasukan Siaga setelah Ancaman AS
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, baru-baru ini menginstruksikan seluruh pasukan keamanan untuk bersiaga. Instruksi ini diberikan setelah ancaman yang muncul dari Amerika Serikat terkait tindakannya terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae Terkait Kematian Pengemudi Ojol
Petro menekankan pentingnya kesetiaan kepada Kolombia dan menyerukan agar aparat yang tidak loyal untuk mundur dari jabatannya. Dalam situasi yang menegangkan ini, kedaulatan negara kembali menjadi sorotan utama.
Petro telah mengeluarkan perintah tegas kepada pasukan keamanan Kolombia untuk bersatu demi melindungi kedaulatan negara. "Setiap prajurit Kolombia sekarang punya perintah: setiap komandan pasukan keamanan yang lebih menyukai bendera AS ketimbang Kolombia harus segera mundur dari institusi," tegasnya.
Dalam pernyataan tersebut, dia menegaskan bahwa pentingnya kedaulatan rakyat merupakan mandat konstitusi yang harus ditaati oleh seluruh elemen keamanan. Meskipun bukan seorang militer, Petro berjanji tidak akan segan mengangkat senjata demi membela rakyat dan kedaulatan Kolombia.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa situasi politik dapat memicu respon yang kuat dari pemimpin, terutama dalam konteks keamanan nasional yang semakin terancam.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Pernyataan Petro muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengekspresikan kebijakan terhadap produksi narkotika yang berkembang di Kolombia. Trump menuduh pemerintah Kolombia telah "membanjiri" AS dengan kokain, yang menuai reaksi keras dari Petro.
Dalam tanggapannya, Petro menegaskan, "Saya bukan pemimpin yang tidak sah, juga bukan pengedar narkoba. Satu-satunya aset yang saya punya cuma rumah keluarga yang bahkan masih dicicil pakai gaji saya." Ini menunjukkan penolakan yang jelas terhadap stigma yang menempel pada dirinya.
Petro juga menegaskan bahwa tuduhan tersebut adalah permainan politik lokal yang bertujuan untuk merusak hubungan bilateral dengan AS.
AS telah melakukan serangan di wilayah tertentu di Venezuela, yang menyebabkan dampak serius, termasuk hilangnya nyawa hingga 80 orang dan penangkapan Presiden Maduro. Petro mengutuk tindakan ini, menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional.
Reaksi internasional terhadap serangan tersebut juga cukup signifikan, dengan banyak negara mengungkapkan solidaritas kepada Venezuela dan mengecam tindakan AS. Situasi ini telah mengguncang hubungan antarnegara di kawasan.
Dalam konteks domestik, Petro berusaha menggalang dukungan dari berbagai elemen masyarakat untuk menjaga kedaulatan dan integritas Kolombia. Panggilannya tidak hanya berfokus pada aspek militer, tetapi juga pada solidaritas sosial yang diperlukan di tengah ketegangan yang berkembang.
Baca juga: Kunto Aji Bicarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Masyarakat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: