Waspadai Gejala Awal Kusta: Peringatan dari Kemenkes untuk Masyarakat
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap gejala awal kusta yang sering kali terabaikan. Peringatan ini mencuat setelah adanya kasus kusta yang melibatkan warga negara Indonesia di luar negeri.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dalam satu tahun terakhir, lebih dari 10 ribu kasus kusta terdeteksi di tanah air. Ini menjadi sinyal bahwa kusta tetap menjadi masalah kesehatan yang serius yang perlu perhatian khusus.
Kusta sering kali terdeteksi terlambat karena gejalanya dianggap ringan. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa 'Gejala kusta sering tidak menimbulkan rasa nyeri. Padahal, deteksi dan pengobatan dini sangat menentukan keberhasilan penyembuhan.'
Masyarakat perlu mengenali tanda-tanda awal kusta pada kulit, seperti bercak kulit yang mati rasa, tampak mengilap, atau bersisik. Ada juga kemungkinan munculnya lepuh atau luka pada tangan dan kaki yang tidak terasa nyeri, serta kesemutan hingga nyeri pada anggota gerak.
Menurut Aji, tantangan utama dalam penanganan kusta adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri. Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan setelah mengalami gangguan saraf atau kecacatan yang sudah parah.
Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia
Aji menegaskan bahwa kusta tidak mudah menular dan dapat disembuhkan jika diobati secara dini dan tuntas. Pemerintah menjamin bahwa pengobatan kusta tersedia gratis di Puskesmas.
"Kalau menemukan gejala seperti itu, jangan menunda. Segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Pengobatan kusta gratis dan harus dijalani sampai selesai," tegasnya.
Kesadaran mengenai gejala awal sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Dengan meningkatkan kunjungan ke fasilitas kesehatan, angka penularan dapat diturunkan secara signifikan.
Selain aspek medis, Kemenkes menegaskan perlunya menghapus stigma yang dialami oleh pengidap kusta. Diskriminasi yang ada justru menghalangi upaya penemuan kasus dan pengobatan yang lebih cepat.
Aji menuturkan, "Stigma dan diskriminasi justru memperburuk situasi. Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan, bukan untuk ditakuti atau dijauhi."
Diharapkan dengan meningkatnya perhatian masyarakat akibat kasus di luar negeri, kesadaran terhadap potensi bahaya kusta di dalam negeri semakin meningkat. Ini diharapkan dapat berkontribusi pada deteksi dini yang lebih efektif dan penurunan angka penularan di masyarakat.
Baca juga: Tips Membuat Kamar Kecil Menjadi Nyaman dan Menyenangkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: