Cuaca Dingin dan Peningkatan Risiko Serangan Jantung: Apa Kata Penelitian?
Cuaca dingin ternyata dapat memicu peningkatan insiden serangan jantung, menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan di JAMA Cardiology.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Demo Sehari Sebelum Aksi
Studi ini menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara suhu rendah dan tingginya angka serangan jantung, menjadi perhatian serius bagi ahli kesehatan.
Penelitian yang melibatkan data kejadian serangan jantung di seluruh Swedia ini menganalisis catatan cuaca dari berbagai stasiun pemantauan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa serangan jantung paling banyak terjadi dalam kondisi suhu rendah, angin kencang, minim cahaya matahari, dan tekanan atmosfer rendah.
David Erlinge, salah satu penulis studi sekaligus Kepala Departemen Kardiologi di Lund University, menyebutkan bahwa risiko serangan jantung meningkat drastis saat suhu berada di bawah 0 derajat Celsius.
Penurunan insiden serangan jantung tercatat ketika suhu meningkat di atas 3 hingga 4 derajat Celsius.
Hong Chen dari Health Canada mengemukakan bahwa paparan suhu dingin dapat memberikan efek jangka panjang.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Ia mencatat bahwa sejumlah literatur menunjukkan dampak paparan dingin dapat bertahan hingga dua hingga tiga minggu setelah terpapar.
Menariknya, asosiasi suhu rendah dan serangan jantung lebih menonjol saat musim yang lebih hangat.
Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan suhu meski tidak ekstrem tetap dapat memicu respons stres pada tubuh manusia.
Ivor Benjamin, Presiden American Heart Association, menekankan bahwa meskipun studi ini menunjukkan hubungan, bukti penyebab langsung masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Namun, banyak faktor risiko yang dapat diperhatikan selama bulan-bulan dingin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: