BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 03 DESEMBER 2025 • 11:55 WIB

Inovasi BRIN: Teknologi Deteksi Cepat Tuberkulosis di Indonesia

Inovasi BRIN: Teknologi Deteksi Cepat Tuberkulosis di IndonesiaInovasi BRIN: Teknologi Deteksi Cepat Tuberkulosis di Indonesia

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengembangkan teknologi deteksi cepat untuk Tuberkulosis (TBC) yang dapat mengubah cara skrining penyakit ini di Indonesia.

Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia

Teknologi yang dikenal sebagai Tuberculosis Colorimetric Sensor ini memanfaatkan perubahan warna untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri penyebab TBC.

Tantangan TBC di Indonesia

Tuberkulosis (TBC) merupakan tantangan kesehatan yang signifikan di Indonesia. Menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menyandang status sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia.

Berdasarkan data, tingginya angka kasus TBC yang resistan terhadap obat serta keterkaitan dengan infeksi HIV menjadi faktor yang memperburuk situasi ini. Hal ini menuntut adanya upaya skrining dini yang lebih efisien.

Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online

Inovasi Sensor Deteksi TBC

Peneliti dari Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, Ni Luh Wulan Septiani, telah berperan penting dalam pengembangan sensor deteksi cepat ini sejak tahun 2024. Sistem yang dirancang memunculkan perubahan warna saat biomarker dari bakteri Mycobacterium tuberculosis terdeteksi.

Melalui inovasi ini, diharapkan akan ada solusi praktis dalam melakukan skrining TBC, yang selama ini banyak dihadapi tantangan.

Metode Deteksi yang Ada dan Keterbatasannya

Saat ini, metode standar dalam mendeteksi TBC masih mengandalkan uji kultur bakteri, yang meskipun akurat namun memerlukan waktu lama untuk mendapatkan hasil. Prosedur ini sering kali tidak praktis untuk diterapkan secara luas dalam masyarakat.

WHO juga merekomendasikan prosedur deteksi cepat yang berbasis molekuler untuk membaca DNA Mycobacterium tuberculosis dalam waktu dua jam. Namun, metode ini masih dianggap terlalu lama serta memerlukan reagen yang mahal, sehingga tidak selalu menjadi pilihan yang feasible.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Insiden Perampokan Rumah Uya Kuya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Inovasi BRIN: Teknologi Deteksi Cepat Tuberkulosis di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!