Korban Banjir dan Longsor di Sumatera Meningkat Signifikan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban tewas akibat bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai angka 659 per 2 Desember 2025.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Lebih dari 2.600 orang mengalami luka-luka, sementara 475 orang masih dinyatakan hilang akibat bencana yang telah melanda lebih dari 50 kabupaten/kota di ketiga provinsi tersebut.
Data dari BNPB hingga siang hari pada 2 Desember menunjukkan bahwa lebih dari 3,2 juta jiwa terdampak oleh bencana ini. Banjir bandang dan tanah longsor telah menghancurkan banyak rumah serta mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketua Tim Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, M. Nasir, mengungkapkan, "Itu data sementara yang kita terima sebanyak 173 korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di Aceh."
Di Sumatra Utara, laporan dari Pusdalops PB BPBD menunjukkan korban tewas mencapai 290 orang, dengan 154 orang masih hilang. Angka-angka ini menunjukkan betapa seriusnya bencana yang terjadi.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Pemerintah melalui Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh aktif melaksanakan langkah-langkah penanggulangan pasca-bencana. Pendataan dan evakuasi dijalankan bagi masyarakat yang kini berada dalam keadaan darurat.
Kabid Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, memberikan update, "Data terbaru 290 orang meninggal dunia, sebanyak 538.792 warga mengalami luka-luka, sementara 135.267 orang terpaksa mengungsi ke pos-pos darurat yang tersebar di berbagai wilayah."
Meskipun bantuan kemanusiaan mulai diterima di daerah-daerah terisolasi, tantangan logistik tetap menjadi kendala di beberapa lokasi.
Banjir dan longsor kali ini menunjukkan adanya peningkatan intensitas cuaca ekstrem yang patut mendapat perhatian. Para ahli menekankan bahwa evaluasi terhadap kebijakan mitigasi bencana perlu dilakukan.
Dampak yang dialami tidak hanya fisik, tetapi psikologis masyarakat juga perlu menjadi fokus. Banyak orang merasa cemas dan tidak aman setelah mengalami bencana ini.
Oleh karena itu, dukungan psikososial perlu diperkuat paralel dengan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi agar daerah terdampak bisa kembali berfungsi dengan baik.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: