Zelensky Umumkan Kesiapan Ukraina untuk Negosiasi Perdamaian dengan Rusia
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, baru-baru ini menyatakan kesiapan negaranya untuk maju dengan rencana perdamaian yang didukung oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul dalam konteks ingin mengakhiri konflik yang terus berlangsung antara Ukraina dan Rusia.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Zelensky menegaskan pentingnya melibatkan presiden AS, Donald Trump, dan sekutu Eropa dalam pembahasan isu konsesi teritorial. Hal ini menunjukkan kekhawatiran bahwa kesepakatan dari pihak AS mungkin membawa beban berat bagi Ukraina.
Kesiapan Ukraina untuk bernegosiasi muncul setelah upaya intensif dari pejabat AS dan Ukraina untuk mendekatkan kesenjangan dalam rencana yang diusulkan oleh pemerintahan Trump. Ukraina sangat khawatir bahwa kesepakatan yang mungkin dihasilkan akan memaksa mereka menerima syarat yang merugikan, termasuk penyerahan wilayah yang telah dikuasai oleh Rusia.
Dalam pernyataannya di hadapan para pemimpin Eropa, Zelensky menekankan bahwa setiap keputusan terkait keamanan harus melibatkan Ukraina. "Kami sangat yakin keputusan keamanan tentang Ukraina harus menyertakan Ukraina, keputusan keamanan tentang Eropa harus menyertakan Eropa... karena ketika sesuatu diputuskan di belakang negara atau rakyatnya, selalu ada risiko tinggi hal itu tidak akan berhasil," ujarnya.
Baca juga: Kunto Aji Bicarakan Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Masyarakat
Setelah pernyataan Zelensky, Gedung Putih segera merespons dengan menyatakan bahwa negosiasi memasuki tahap akhir. Trump mengindikasikan bahwa masih ada beberapa poin yang perlu disepakati dan utusannya, Steve Witkoff, akan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Trump berharap untuk segera bertemu dengan Zelensky dan Putin, tetapi menyatakan bahwa pertemuan tersebut akan dilakukan hanya jika kesepakatan perdamaian telah dianggap final. Ia menambahkan, "Saya berharap dapat bertemu dengan Zelenskyy dan Putin segera, tetapi HANYA ketika kesepakatan untuk mengakhiri perang sudah FINAL atau dalam tahap akhir."
Kerangka kerja perdamaian yang diusulkan telah disederhanakan dari proposal awal 28 poin menjadi 19 poin setelah berlangsungnya pembicaraan di Jenewa. Namun, isu mengenai konsesi teritorial dan batasan militer bagi Ukraina tetap menjadi perdebatan yang belum terpecahkan.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa setiap amandemen terhadap rencana perdamaian harus mencerminkan "semangat dan surat" dari pemahaman yang sudah ada antara Putin dan Trump sebelumnya. Kremlin juga menolak proposal alternatif dari Eropa, menyebutnya sebagai "sepenuhnya tidak konstruktif."
Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: