Lonvi Biosciences Mengembangkan Pil Panjang Umur dari Ekstrak Biji Anggur
Lonvi Biosciences, perusahaan asal Shenzhen, China, tengah mengembangkan pil yang diyakini akan membantu manusia hidup lebih dari 100 tahun.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor Transfer Liga Inggris
Obat yang terbuat dari ekstrak biji anggur ini menawarkan harapan baru dalam bidang bioteknologi, khususnya dalam penelitian anti-penuaan.
China memiliki obsesi berabad-abad untuk menemukan obat panjang umur, bermula dari kaisar pertama Qin Shi Huang yang mencari keabadian.
Meski Jinping meninggal di usia 49 tahun karena keracunan merkuri dari pil, pencarian ini terus berlanjut hingga saat ini dan menarik perhatian investor.
Dalam beberapa bulan terakhir, baik pemerintah maupun sektor swasta menggelontorkan investasi yang signifikan untuk penelitian anti-penuaan ini, menjadikannya cabang ilmu yang sah.
Industri bioteknologi menghadapi prioritas baru, dengan anggaran miliaran untuk penelitian dan pengembangan terkait umur panjang.
Pil panjang umur ini mengandung procyanidin C1 (PCC1) dari biji anggur yang telah diuji dan terbukti memperpanjang usia tikus sebesar 9,4 persen.
Baca juga: Pertemuan Presidenn Prabowo dengan Serikat Pekerja Bahas RUU dan Aksi Demonstrasi
Studi sebelumnya di jurnal Nature Metabolism mencatat potensi PCC1, meski terdapat catatan editor tentang kesalahan data dalam laporan tersebut.
Duke Zheng, juru bicara Lonvi, mengungkapkan bahwa mereka berhasil mengisolasi molekul yang dapat mengeliminasi 'sel zombie' yang merusak sel sehat.
Lonvi percaya bahwa kombinasi obat ini dengan pola hidup sehat dapat membuka peluang perpanjangan usia manusia secara signifikan.
Dengan harapan hidup di China kini mencapai 79 tahun, inovasi ini diharapkan menjadi solusi untuk keinginan masyarakat hidup lebih lama.
Lonvi berencana memproduksi pil dalam bentuk kapsul dengan konsentrasi tinggi untuk penerapan di bidang kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: