Pertemuan Jonan dan Prabowo: Diskusi Seputar BUMN Tanpa Kereta Cepat
Diskusi selama dua jam di Istana Kepresidenan antara Ignasius Jonan dan Prabowo Subianto tidak menyentuh polemik Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Jonan lebih fokus pada peran BUMN dalam perekonomian dan program-program pemerintah yang pro-rakyat.
Baca juga: Timnas Korea Selatan U-23 Siap Hadapi Indonesia di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Jonan mengungkapkan bahwa kedatangannya ke istana bertujuan untuk berdiskusi sebagai warga negara, dan bukan untuk memberikan masukan terkait proyek kereta cepat yang sering menjadi sorotan.
Ignasius Jonan, Direktur Utama KAI terdahulu, mengonfirmasi bahwa pertemuan yang diprakarsai oleh Sekretaris Kabinet berlangsung selama dua jam. Ia tiba di Istana pada pukul 15.34 WIB dan meninggalkan lokasi pada pukul 18.20 WIB.
Saat ditanya mengenai diskusi kereta cepat, Jonan menegaskan, "Enggak, enggak (bahas kereta cepat). Enggak, saya nggak diminta masukan kok soal itu." Ucapan tersebut menunjukkan bahwa pertemuan benar-benar terfokus pada isu-isu lain.
Jonan menambahkan bahwa tujuan utama kedatangannya adalah untuk berbagi cerita dan mendiskusikan program-program yang dijalankan Prabowo, termasuk inisiatif kerakyatan yang menyasar kepentingan masyarakat.
Baca juga: Alexander Isak Bergabung dengan Liverpool: Transfer Mengejutkan di Bursa Musim Panas
Di dalam diskusi tersebut, Jonan memuji peran Prabowo dalam diplomasi luar negeri dan pengembangan BUMN. Ia mengatakan, "Puji Tuhan beliau berkenan untuk mendengarkan dan diskusi dan menerima lah beberapa masukan," menandakan suasana positif selama pertemuan.
Diskusi juga mencakup beberapa program kerakyatan yang dipaparkan oleh Prabowo, meskipun tidak ada pembicaraan mendalam mengenai proyek kereta cepat.
Jonan memilih untuk tidak memberikan komentar tentang pandangannya mengenai proyek KCJB ketika ditanya oleh awak media, sebuah langkah yang menandakan sikap hati-hati di tengah kontroversi yang mengelilingi proyek tersebut.
Sementara itu, proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang dikenal dengan nama Whoosh menjadi perhatian karena menghadapi beban utang yang signifikan. KAI, sebagai pemegang saham terbesar, merasakan dampak kerugian yang dihasilkan oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia.
Laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa PT PSBI, anak perusahaan KAI, mengalami kerugian mencapai Rp 4,195 triliun pada tahun 2024. Di sepanjang semester I-2025, tambahan kerugian sebesar Rp 1,625 triliun pun telah dibukukan.
Kerugian ini menyiratkan bahwa proyek kereta cepat menjadi isu penting, apalagi mengingat Jonan sebelumnya merupakan penentang pembangunan project ini. Ia menekankan bahwa tanggung jawab kebijakan Prabowo terkait proyek tersebut harus dijunjung tinggi sebagai pemimpin.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa bagi Polisi yang Terluka
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: