Penggunaan Etanol Sebagai Bahan Bakar di Indonesia: Menuju Kemandirian Energi
Masyarakat Indonesia kini tengah mempersiapkan penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya akan diterapkan pada 2027.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China: Diplomasi Dalam 8 Jam
Harga etanol murni dengan konsentrasi 100 persen diperkirakan mencapai Rp 16 ribu per liter dan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin.
Etanol adalah senyawa kimia yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif dan memiliki beberapa karakteristik menarik. Profesor Ronny Purwadi dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa etanol anhydrous hampir murni dengan kandungan air hanya 0,5 persen.
Penerapan etanol sebagai campuran dalam BBM tentunya akan mempengaruhi biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat. Jika etanol dicampurkan hingga 10 persen ke dalam BBM (E10), maka akan ada tambahan biaya sekitar Rp 1.600 per liter.
Berdasarkan angka tersebut, jika harga etanol E100 adalah Rp 16.000 per liter, biaya tambahan dianggap tidak signifikan untuk penggunaan dalam jumlah besar, tetapi tetap menjadi perhatian masyarakat.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berencana menerapkan penggunaan etanol sebesar 10 persen (E10) mulai tahun 2027. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa penerapan kebijakan ini masih berada dalam tahap kajian.
Ia menekankan perlunya kesiapan pabrik etanol domestik sebelum kebijakan ini diberlakukan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor bensin yang mencapai 27 juta ton per tahun.
Strategi tersebut dianggap penting untuk mencapai kemandirian energi di tanah air. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi nasional dan mendorong penggunaan sumber energi terbarukan.
Penggunaan etanol sebagai campuran BBM menawarkan alternatif sumber energi baru yang berpotensi mengurangi emisi karbon. Langkah ini sangat relevan dengan komitmen Indonesia untuk menangani perubahan iklim dan mencapai target energi terbarukan.
Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, termasuk kesiapan industri dan infrastruktur terkait. Masyarakat dan pelaku industri perlu beradaptasi dengan perubahan ini, sementara pemerintah harus memastikan pasokan dan distribusi etanol berjalan lancar.
Kebijakan ini juga akan melalui tahap uji coba untuk menilai efektivitas dan dampaknya terhadap harga serta ketersediaan BBM di berbagai wilayah di Indonesia. Dengan perencanaan yang baik, tantangan ini diharapkan dapat diatasi untuk menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Mahasiswa Siap Gelar Aksi Unjuk Rasa Besar-Besaran pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: