Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta: Sumber dan Dampaknya
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa mikroplastik yang ditemukan dalam air hujan di Jakarta berasal dari berbagai daerah. Partikel ini dapat berpindah melalui udara sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi.
Baca juga: Google Respon Terkait Masalah Keamanan Gmail dan Aktivitas Phishing
Dwi Atmoko, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, menjelaskan bahwa aerosol, termasuk mikroplastik, bersumber dari aktivitas manusia dan fenomena alam.
Dwi Atmoko menjelaskan bahwa aerosol bisa berasal dari banyak sumber, seperti debu vulkanik serta aktivitas manusia. Misalnya, asap kendaraan dan pembakaran limbah menjadi penyumbang utama.
Mikroplastik dalam air hujan di Jakarta dapat berasal dari aktifitas pertanian dan industri, atau menjalar dari daerah sekitar. 'Semua itu melepaskan partikel-partikel halus ke atmosfer,' ungkap Atmoko.
Seiring dengan interaksi antara aktivitas manusia dan kondisi alam, partikel-partikel ini berpindah mengikuti arah dan pola angin. Pergerakan mikroplastik dalam atmosfer bukanlah sesuatu yang statis.
Baca juga: Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil: Nikmati Momen Sederhana
Ada dua cara utama mikroplastik jatuh ke bumi, yaitu deposisi kering dan basah. Deposisi kering terjadi ketika partikel jatuh akibat gravitasi saat atmosfer tenang.
Sedangkan deposisi basah terjadi ketika partikel dalam atmosfer menjadi inti kondensasi awan, dan turun bersama air hujan. 'Dengan demikian, air hujan dapat membawa partikel aerosol, termasuk mikroplastik, turun ke permukaan,' lanjut Atmoko.
Hasil pengamatan dari satelit CALIPSO menunjukkan aerosol bisa mencapai ketinggian hingga 15 kilometer. Meskipun tidak semua partikel bisa ikut hujan, beberapa tetap jatuh kembali dalam kondisi tertentu.
Dwi Atmoko menekankan bahwa mikroplastik di Jakarta tidak selalu berasal dari daerah tersebut. Ini disebut transportasi polutan, di mana partikel polutan terbawa angin ke lokasi lain.
Mikroplastik terdeteksi di Jakarta kemungkinan besar hasil aktivitas dari daerah lain. 'Artinya, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain, atau sebaliknya,' tambahnya.
Kondisi geografis Indonesia di garis ekuator berkontribusi pada penyebaran polutan yang tinggi. Musim kemarau sering memicu pembakaran sampah terbuka, menghasilkan mikroplastik yang terbang ke atmosfer.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: