Kontroversi Taylor Swift: AI dalam Promosi Album Terbaru Mengundang Kritikan
Taylor Swift, penyanyi terkenal asal Amerika, saat ini tengah berhadapan dengan kritik tajam terkait promosi album terbarunya, 'The Life of a Showgirl'. Banyak penggemar merasa langkah ini telah mengabaikan nilai dari seniman sejati dan kualitas karya seni.
Baca juga: Apple Belum Ajukan Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Dalam kampanye promosi yang melibatkan pencarian video-video yang diduga dibuat oleh kecerdasan artifisial (AI), penggemar diminta mencari portal jingga di 12 kota di seluruh dunia, namun banyak yang kecewa dengan hasil yang tidak memuaskan.
Semua ini bermula saat Taylor Swift meluncurkan kampanye untuk album terbarunya, 'The Life of a Showgirl', yang mengajak penggemar mencari pintu jingga di kota-kota seperti Nashville dan London. Aktivitas yang awalnya dimaksudkan untuk bersenang-senang berakhir menjadi sumber kekhawatiran karena kualitas video yang tidak sesuai harapan.
Para penggemar, yang dikenal sebagai Swifties, diminta memindai kode QR untuk mengakses video promosi. Namun, video tersebut menampilkan kejanggalan yang khas dari teknologi AI, seperti gambar yang tidak konsisten dan objek yang menghilang, memicu banyak reaksi negatif.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Sejumlah penggemar menyampaikan kekecewaan mereka melalui media sosial. Mereka merasa seharusnya Taylor Swift dapat menggunakan anggarannya untuk menyewa para seniman digital, bukannya bergantung pada AI.
Ben Colman, CEO Reality Defender, mengungkapkan bahwa tampak 'sangat mungkin' beberapa klip tersebut dihasilkan oleh AI, dengan kesalahan teks dan tampilan yang tidak konsisten sebagai indikasi jelas penggunaan teknologi ini.
Meskipun belum ada pernyataan resmi dari Taylor Swift mengenai penggunaan AI dalam promosi ini, ia pernah menyatakan penolakannya terhadap konten yang dihasilkan oleh AI. Tahun lalu, Swift menyoroti konsekuensi dari informasi menyesatkan yang dihasilkan melalui AI, khususnya setelah rumor dukungannya kepada Donald Trump.
Alyssa Yung, seorang penggemar lama Swift, mengingatkan bahwa penyanyi ini seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap karyanya. 'Taylor Swift telah menjadi advokat selama bertahun-tahun tentang kepemilikan karya seninya dan AI generatif menggunakan karya seni curian untuk membuat gambar atau videonya,' ungkapnya.
Baca juga: Meningkatkan Pengetahuan Finansial Melalui Finfluencer di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: