BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Selasa, 21 OKTOBER 2025 • 18:51 WIB

Memahami Toxic Positivity: Ketika Positif Justru Menjadi Beban

Memahami Toxic Positivity: Ketika Positif Justru Menjadi BebanMemahami Toxic Positivity: Ketika Positif Justru Menjadi Beban

Dalam dunia yang penuh tekanan ini, ungkapan "Semangat terus!" sering kali muncul. Namun, apa jadinya jika semangat tersebut justru menambah beban di pikiran kita?

Baca juga: Djokovic Melaju ke Semifinal US Open 2025, Tantang Alcaraz

Toxic positivity, atau positifitas beracun, kini menjadi isu serius yang semakin banyak dibahas. Di balik dorongan untuk selalu tampil ceria, terdapat dampak emosional yang tak boleh diabaikan.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah sikap yang memaksa orang untuk selalu berpikir positif, tanpa mempertimbangkan keadaan mereka yang sesungguhnya. Sering kali, saat seseorang berduka, mereka menghadapi komentar seperti, "Cobalah untuk bahagia!" atau "Semua akan baik-baik saja!".

Sikap ini berisiko memicu perasaan bersalah bagi individu yang merasa sedih atau tidak berdaya. Penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology mencatat bahwa akumulasi emosi negatif yang tidak dapat diekspresikan justru memperburuk masalah kesehatan mental, dengan menyatakan bahwa, "Perasaan yang ditekan tidak akan hilang, melainkan akan muncul dalam bentuk lain yang lebih merugikan."

Alih-alih memberikan dukungan, pernyataan positif yang tidak tepat bisa menjadikan seseorang merasa semakin terasing dan tidak dimengerti. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan: di mana batas antara dukungan yang tulus dan tekanan untuk selalu terlihat bahagia?

Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor Setelah Pencabutan Instruksi WFH

Dampak Negatif dari Toxic Positivity

Seseorang yang terjebak dalam toxic positivity sering kali menekan emosi negatif mereka. Ini dapat menyebabkan kondisi emosional yang lebih serius, seperti kecemasan dan depresi yang berkepanjangan.

Di ranah sosial, toxic positivity menciptakan lingkungan di mana individu merasa mustahil untuk menunjukkan kerentanan. Psikolog Jenna D. Hwang mengungkapkan, "Rasa tidak berdaya yang dihasilkan dari tekanan positif ini bisa sangat merusak bagi kesehatan mental seseorang."

Ketika orang tidak bisa mengekspresikan diri secara autentik, hubungan interpersonal pun menjadi terganggu. Keberadaan rasa saling memahami dan empati mulai memudar, yang menciptakan jarak antara individu meski fisiknya berdekatan.

Bagaimana Menghadapi Toxic Positivity?

Menangani toxic positivity yang paling efektif adalah dengan memberikan ruang bagi perasaan negatif. Mengizinkan diri untuk merasa sedih, marah, atau kecewa dapat menjadi langkah awal menuju penyembuhan.

Adalah penting untuk berbicara dengan seseorang yang mampu mendengarkan tanpa memberikan penilaian. Terkadang, membagikan pengalaman buruk dapat membantu meredakan beban yang dirasakan.

Di samping itu, memahami bahwa tidak masalah untuk tidak selalu baik-baik saja juga sangat penting untuk kesehatan mental. Ingatlah, perasaan itu valid, dan jika merasa tertekan, ambil waktu untuk diri sendiri.

Baca juga: Penangkapan Direktur Lokataru, Isu Kebebasan Sipil di Indonesia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Memahami Toxic Positivity: Ketika Positif Justru Menjadi Beban

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!