Mengenal Anemia Defisiensi Besi: Penyebab, Gejala, dan Kelompok Berisiko
Anemia defisiensi besi adalah kondisi medis yang muncul akibat kekurangan zat besi dalam tubuh, yang sangat penting untuk produksi sel darah merah yang sehat.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Kondisi ini dapat memicu gejala seperti kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi, sehingga penting untuk mengenali tanda-tandanya.
Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup zat besi dari makanan atau mengalami kesulitan dalam menyerapnya. Zat besi memainkan peran krusial dalam pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Tanpa pasokan zat besi yang memadai, produksi sel darah merah terganggu, mengakibatkan jumlah sel yang tersedia jauh di bawah kapasitas normal. Akibatnya, tubuh tidak dapat menerima oksigen yang dibutuhkan untuk berfungsi secara optimal, yang dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh.
Baca juga: Adrian Wibowo, Pemain Campuran Pertama MLS dari Indonesia
Gejala dari anemia defisiensi besi umumnya berkembang secara perlahan dan dapat bervariasi antar individu. Di antara gejala yang sering muncul adalah kelelahan yang ekstrem, kulit menjadi pucat, dan sesak napas saat melakukan aktivitas ringan.
Pengidap anemia ini juga mungkin merasakan detak jantung yang cepat atau tidak teratur. Gejala lain yang cukup unik namun sering terjadi adalah peningkatan keinginan untuk mengonsumsi benda non-makanan seperti tanah atau es, kondisi ini dikenal dengan istilah pica.
Terdapat beberapa kelompok yang lebih berisiko mengalami anemia defisiensi besi. Wanita hamil adalah salah satu contohnya, karena mereka membutuhkan tambahan zat besi untuk mendukung pertumbuhan janin yang optimal.
Remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan juga memerlukan asupan zat besi yang lebih banyak. Selain itu, individu dengan gangguan pencernaan yang menyebabkan kesulitan dalam penyerapan zat besi terlalu rentan terhadap kondisi ini.
Diet yang rendah zat besi, terutama di kalangan vegetarian atau vegan yang tidak memantau asupan nutrisi mereka dengan seksama, bisa menjadi faktor risiko yang lebih tinggi bagi mereka.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Eko Patrio Dimulai
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: