Perjalanan Demokrasi di Indonesia: Dari Orde Lama Hingga Reformasi
Perjalanan demokrasi di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945.
Baca juga: Prabowo Subianto Jadi Kontroversi dalam Kunjungan ke China
Dari masa Orde Lama hingga era reformasi, banyak perubahan yang terjadi dalam sistem politik dan partisipasi masyarakat.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia mengadopsi sistem demokrasi parlementer yang dipengaruhi oleh sistem politik Barat.
Namun, periode ini diwarnai oleh ketidakstabilan politik dan persaingan antara partai-partai yang mengakibatkan kekacauan.
Pada tahun 1959, Presiden Soekarno membubarkan parlemen dan mengembalikan kekuasaan eksekutif melalui Dekrit Presiden, mengawali periode Orde Lama.
Kekuasaan Soekarno dibentuk oleh ideologi Nasakom, yang mengintegrasikan nasionalisme, agama, dan komunisme.
Setelah kejatuhan Soekarno pada tahun 1967, Orde Baru di bawah Presiden Suharto menerapkan sistem otoritarian dengan mengedepankan stabilitas politik.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat
Meskipun ada proyek pembangunan yang besar, kebebasan sipil dan hak asasi manusia sering diabaikan selama periode ini.
Pemilu diadakan, namun cenderung bersifat simbolis dan dikontrol oleh pemerintah untuk memastikan kemenangan partai Golkar.
Rezim Orde Baru berakhir pada tahun 1998, di tengah krisis ekonomi yang menyulut demonstrasi besar-besaran oleh rakyat Indonesia.
Era reformasi membawa angin segar bagi sistem demokrasi di Indonesia, ditandai dengan pemilihan umum yang lebih bebas dan transparan.
Banyak partai baru bermunculan dan partisipasi masyarakat dalam proses politik meningkat tajam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: