Bentrokan Terjadi Dalam Demonstrasi Besar di Filipina
Demonstrasi besar-besaran di Filipina pada 21 September 2025 berujung pada bentrokan antara ribuan demonstran dan aparat kepolisian. Dalam aksi ini, 20 orang ditahan dan puluhan petugas polisi mengalami cedera.
Baca juga: Desta Paparkan Tuntutan Rakyat untuk Keadilan dalam Pemilu 2024
Aksi unjuk rasa ini dipicu oleh tuntutan masyarakat untuk pertanggungjawaban pemerintah terkait dugaan korupsi dalam penanganan banjir, dengan laporan menyebutkan partisipasi mencapai 80.000 orang.
Pada Minggu, 21 September 2025, ribuan orang berkumpul di lokasi-lokasi utama seperti People Power Monument dan Rizal Park untuk melakukan aksi unjuk rasa. Laporan dari Inquirer menyebutkan sekitar 49.000 orang berkumpul di Taman Luneta, sementara penyelenggara memperkirakan sebanyak 80.000 demonstran hadir dalam aksi tersebut.
Aksi tersebut dikhususkan untuk mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap dugaan penyimpangan dalam proyek pengendalian banjir yang dikelola pemerintah.
Pesan mayoritas demonstran adalah meminta transparansi dan pertanggungjawaban dari pihak berwenang mengenai penanganan bencana yang telah merugikan banyak warga.
Baca juga: Calvin Verdonk Hampir Bergabung dengan Lille, Klub Terkenal Prancis yang Penuh Talenta
Bentrokan antara demonstran dan polisi terjadi di beberapa lokasi, dengan aparat mengklaim bahwa para demonstran melakukan tindakan vandalisme, termasuk membakar truk trailer. Sebanyak 20 orang ditangkap dan 39 petugas polisi dilaporkan mengalami luka akibat kekerasan yang terjadi selama aksi tersebut.
Kepolisian Nasional Filipina memberikan peringatan bahwa meskipun menghormati hak untuk berkumpul secara damai, tindakan kekerasan dapat mengancam nyawa dan merusak pesan yang ingin disampaikan oleh demonstran.
Sebagian demonstran menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan kekerasan, namun merasa perlu untuk bersuara keras untuk menyampaikan ketidakpuasan mereka.
Presiden Ferdinand R Marcos Jr memerintahkan polisi untuk menerapkan "toleransi maksimal" dalam menghadapi demonstrasi tersebut, menyampaikan bahwa tindakan keras tidak boleh mengakibatkan cedera. Ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaga ketertiban sambil tetap menghormati hak warganya.
Menteri Dalam Negeri, Jonvic Remulla, menekankan bahwa pihaknya akan melindungi hak warga untuk berkumpul secara damai namun tidak akan mengizinkan ketidakstabilan dan kekerasan.
Sebagai langkah tambahan, Wali Kota Manila, Francisco Isko Moreno Domagoso, memberlakukan jam malam bagi anak di bawah usia 17 tahun, yang berlangsung dari pukul 10 malam hingga 4 pagi. Kebijakan ini diambil untuk mencegah kerusuhan lebih lanjut dan menjaga keamanan kota.
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: