Ilustrasi Dinosaurus (Craiyon)
HYPEVOX – Selama ini, kita sering membayangkan dinosaurus, terutama T. rex, seperti monster yang mengaum hebat. Bakal bikin bulu kuduk merinding ya! Tapi belakangan ini, ilmuwan bilang, *Eh, tunggu dulu!* Suara dinosaurus mungkin jauh dari yang kita gambarkan di film-film.
Yap, Pembuat film Jurassic Park ternyata nekat menambah ekspektasi kita dengan suara auman yang lebih mirip singa atau harimau, bukan reptil yang sebenarnya. So, siap-siap hancurkan semua imajinasi selama ini!
Para ilmuwan berusaha meneliti suara dinosaurus dengan melihat kerabat dekat mereka yang masih hidup, seperti buaya dan aligator. Saksi bisu yang satu ini pernah hidup berabad-abad yang lalu dan punya nenek moyang yang sama dengan dinosaurus, sekitar 250 juta tahun yang lalu.
Dan tebak apa? Suara buaya dan aligator jauh lebih mirip. Jadi, saat mengira T. rex mengaum, coba bayangkan suara yang lebih mirip dengungan atau geraman rendah. Bukan auman super menggetarkan yang selama ini kita duga!
Gary Rydstrom, desainer suara film Jurassic Park, pernah menciptakan suara untuk dinosaur dengan menggabungkan berbagai suara dari hewan-hewan mamalia. Suara gajah, keledai, dan bahkan lumba-lumba! Yap, semuanya untuk menghasilkan kesan suara yang menggetarkan.
Jadi, jangan terkejut kalau suara yang kita dengar dari ‘si raja dinosaurus’ adalah hasil dosis tinggi dari teknik kreatif dan sedikit ketidakakuratan ilmiah. Rydstrom bahkan tertawa ketika ditanya soal keakuratan ilmiah. “Itu kan cuma film!”
Ilmuwan juga melihat bentuk kerangka dinosaurus untuk memahami bagaimana mereka bisa mengeluarkan suara. Contohnya, parasaurolophus, si dinosaurus dengan ‘horn’ di kepalanya. Bentuk khusus ini memungkinkan resonansi suara, mungkin bisa kayak brengsek yang melodinya enak didengar.
Dari sini, para ilmuwan bisa memperkirakan frekuensi suara yang dihasilkan. Suara ini tentu jauh dari *roar* yang kita bayangkan, lebih mirip nada yang bisa menghasilkan melodinya sendiri.
Jadi, bukan hanya sekadar suara kasar, tapi bisa jadi mereka memiliki suara yang lebih indah dan bervariasi.
Bicara tentang kerabat dekat, buaya itu jujur—mereka sudah ada sejak zaman dinosaurus dan masih eksis hingga sekarang. Kenapa? Salah satu alasan mereka bertahan hidup adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Menariknya, buaya mampu bertahan di berbagai kondisi, termasuk iklim ekstrem. Makanya, kita bisa melihat mereka menyelamatkan diri dari punah seperti banyak reptil lain yang tidak memiliki keberuntungan sama. Siapa sangka, si reptil ini akan menjadi saksi bisu dari zaman purbakala!
Walaupun banyak yang sudah punah, penurunan dinosaurus kepada burung-burung yang ada saat ini menunjukkan bahwa evolusi itu masih ada. Jadi, burung-burung pun bisa jadi ternyata tidak jauh berbeda dengan suara nenek moyangnya!
Di masa depan, mungkin kita juga akan tahu lebih banyak tentang suara hewan purba, seiring dengan penemuan dan penelitian yang terus berlangsung. Dan siapa tahu, suara unik ini mungkin akan menjadi inspirasi alami dalam dunia musik dan seni!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: