Ilustrasi Artificial Intelligence. (Foto: Istimewa)
HYPEVOX – Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium, dan transimisinya dilakukan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Setiap tahunnya, jutaan orang terinfeksi malaria, dan tanpa diagnosis yang tepat, pengobatan dapat terlambat atau salah langkah.
Biasanya, diagnosis malaria dilakukan secara manual dengan pemeriksaan mikroskopis, yang membutuhkan waktu dan keahlian. Namun, metode ini tidak selalu efektif, terutama di daerah terpencil di mana sumber daya terbatas.
Sekarang, dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), diagnosis malaria mendapatkan sentuhan modern yang menjanjikan. Para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan sistem AI untuk menganalisis gambar mikroskopis dari apusan darah.
Sistem ini diharapkan dapat mempercepat proses diagnosis dan meningkatkan akurasi hal ini secara signifikan. Hasil pengujian awal menunjukkan performa yang menggembirakan, dan strategi kolaborasi antara ilmuwan komputasi dan medis sangat ditekankan dalam pengembangan ini.
Dengan pemanfaatan AI, diagnosis malaria bisa lebih cepat ditempuh. Misalnya, perangkat AI bisa membantu praktik medis untuk mendiagnosis pasien dalam keadaan darurat di tempat layanan kesehatan, bahkan di daerah yang sulit diakses.
AI tidak hanya mampu membaca gambar dengan lebih cepat daripada mata manusia, tetapi juga dapat mengenali pola dan morfologi parasit malaria dalam siklus hidupnya, yang menjadi tantangan besar bagi dokter dalam melakukan diagnosis manual.
Penggunaan AI dalam diagnosis malaria berpotensi membantu dalam pengendalian penyakit ini secara lebih efektif. Hal ini juga bisa meningkatkan akses terhadap pengobatan yang tepat waktu, yang sangat krusial dalam menangani infeksi malaria.
Karena kecepatan dan akurasi diagnosis berbasis AI, beberapa daerah yang sebelumnya sulit menjangkau layanan medis akan lebih terlayani, sehingga berkontribusi pada pengurangan jumlah kasus malaria di Indonesia.
Meski banyak manfaat, masih ada tantangan yang harus diatasi. Terutama dalam hal integrasi AI dengan praktik medis yang sudah ada. Pengadaaan fasilitas dan pelatihan tenaga medis untuk menggunakan teknologi ini juga harus dipikirkan.
Perkembangan terobosan ini memerlukan kolaborasi yang berkelanjutan antara ahli teknologi dan tenaga medis untuk memastikan bahwa alat AI yang dikembangkan bermanfaat dan sesuai untuk konteks lokal.
Dengan perkembangan yang pesat di bidang teknologi AI, masa depan diagnosis malaria terlihat lebih cerah. Penelitian dan pengembangan yang berkelanjutan diharapkan mampu menciptakan solusi yang handal dan efektif.
Jika semua berjalan dengan baik, kita bisa berharap untuk melihat pengurangan signifikan dalam angka penderita malaria di seluruh dunia, terutama di negara-negara endemis. Ini adalah langkah besar dalam upaya kemanusiaan dan kesehatan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: