HYPEVOX – Di Indonesia, kamu pasti sudah tidak asing lagi dengan nama-nama besar seperti Sariwangi, Nyonya Meneer, Tupperware, dan Kodak. Merek-merek ini pernah menjadi favorit banyak orang. Akan tetapi, siapa sangka, mereka harus menghadapi realitas pahit yaitu kebangkrutan.
Kenapa ya bisa terjadi? Selalu ada alasan di balik ketidakberhasilan, dan sebagian besar berasal dari faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi performa mereka.
Sariwangi, merek teh yang sudah sangat terkenal di Indonesia, sempat menjadi primadona di kalangan pecinta teh. Namun, seiring berjalannya waktu, brand ini mulai kehilangan pemasaran dan pangsa pasar.
Salah satu faktor yang menyebabkan kebangkrutan mereka adalah kurangnya inovasi dan adaptasi terhadap selera masyarakat yang berubah. Tidak cuma itu, persaingan dari teh-teh premium lainnya juga membuat Sariwangi terdesak.
Siapa yang tidak mengenal Nyonya Meneer? Brand ini menawarkan jamu dan produk herbal yang telah berakar dalam budaya Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan datangnya produk-produk modern, Nyonya Meneer tidak mampu mempertahankan popularitasnya.
Ditambah lagi, skema manajemen yang kurang efisien menyebabkan mereka kesulitan dalam memperluas jangkauan pasar dan mengenalkan produk mereka kepada generasi muda. Kebangkrutan mereka adalah pelajaran tentang pentingnya inovasi dan penyesuaian strategi bisnis.
Tupperware adalah merek yang sudah sangat kental di benak masyarakat Indonesia. Namun, pada tahun 2025, mereka akhirnya harus mengakhiri bisnis di Indonesia setelah bertahan selama 33 tahun.
Kelemahan dalam permintaan produk di pasar dan tidak adanya penyesuaian model bisnis untuk menyesuaikan dengan keinginan konsumen menyebabkan mereka terpaksa pamit.
Meski tidak sepenuhnya bangkrut, keputusan mereka untuk menjual sebagian bisnis adalah langkah cerdas untuk bertahan.
Kodak adalah salah satu merek yang bisa dibilang memiliki masa kejayaan yang sangat panjang. Namun, ketidakmampuan mereka untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital mengakibatkan mereka terpuruk.
Merek ini terkenal karena produk kamera dan filmnya, tapi ketika zaman sudah beralih ke digital, mereka tetap berpegang pada cara lama. Tak heran, ketika pesaing lain menawarkan inovasi baru, Kodak kehilangan banyak pasar dan akhirnya mengalami kebangkrutan.
Kebangkrutan dari brand- brand besar ini mengingatkan kita semua tentang pentingnya inovasi, penyesuaian terhadap pasar, dan manajemen yang efisien.
Baik itu dalam memahami perubahan selera konsumen atau kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Dalam konteks bisnis, ketahanan dan fleksibilitas sangat diperlukan untuk survive di tengah persaingan yang ketat. Bagi generasi muda yang nantinya ingin terjun ke dunia bisnis, ayo kita ambil pelajaran dari sini!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: