Siswa Nakal di Barak Militer Jawa Barat. (Foto: Istimewa)
HYPEVOX – Di Jawa Barat, ada yang disebut dengan Program Pendidikan Karakter Pancawaluya yang menarik perhatian banyak orang. Program ini bertujuan untuk mendidik siswa-siswa yang dianggap ‘nakal’ dengan cara yang sedikit unik – di barak militer.
Gubernur Dedi Mulyadi menjadi penggagas program ini, dan nampaknya dia memiliki pandangan tersendiri tentang cara mendidik anak.
Program ini melibatkan pelatihan di lingkungan militer, dengan harapan bisa membentuk karakter dan disiplin mereka. Namun, keputusan untuk membawa anak-anak muda ini ke barak TNI tentu bukan tanpa pro dan kontra.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada pekan lalu mengeluarkan rekomendasi untuk menghentikan sementara program tersebut. KPAI berpendapat bahwa program ini perlu dievaluasi lebih dalam untuk memastikan apakah itu benar-benar bermanfaat bagi anak-anak tersebut, atau justru sebaliknya.
Ada rasa cemas bahwa anak-anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan dan dukungan malah menghadapi stigma negatif yang lebih parah jika mereka ditempatkan di barak militer. KPAI menyarankan peninjauan menyeluruh terhadap program ini agar bisa merumuskan model pendidikan yang lebih sesuai dan tidak melanggar prinsip perlindungan anak.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti kemudian angkat bicara dan merespons rekomendasi KPAI. Ia menekankan pentingnya menghadirkan metode pengajaran yang tepat dalam program seperti ini.
Ia menyuarakan pendapat bahwa program pendidikan di barak militer hendaknya dievaluasi dan tidak dilanjutkan begitu saja tanpa mempertimbangkan banyak aspek, termasuk efek jangka panjang bagi anak-anak yang terlibat.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, juga memberikan tanggapan. Dalam pandangannya, pendidikan karakter bagi anak-anak yang bermasalah seharusnya tidak hanya mengandalkan pendekatan militer.
Ia menggarisbawahi bahwa anak-anak memiliki kebutuhan yang lebih kompleks dan seharusnya dihadapi dengan solusi yang lebih komprehensif, serta hati-hati dalam menerapkan kebijakan seperti ini.
Ace Hasan Syadzily yang menjabat Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) mengungkapkan kekhawatirannya terhadap program ini. Menurutnya, ada potensi bahwa anak-anak yang dididik di barak militer bisa saja justru terjebak dalam perilaku nakal lebih lanjut.
Penting untuk mempertimbangkan semua faktor yang mungkin mempengaruhi perilaku anak, termasuk lingkungan keluarga dan sosial mereka, sehingga pendekatan yang lebih holistik diperlukan.
Secara keseluruhan, KPAI, Mendikdasmen, Menko PMK, dan Lemhannas sepakat bahwa program pendidikan di barak militer ala Dedi Mulyadi perlu dievaluasi secara menyeluruh. Meskipun memiliki niat baik untuk mendidik anak-anak yang dianggap nakal, perlu ada pendekatan yang lebih sesuai dan mengedepankan perlindungan serta hak anak.
Diskusi yang mengelilingi topik ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap perkembangan anak-anak dan bagaimana pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: