BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Minggu, 25 MEI 2025 • 15:59 WIB

Krisis Sritex, Dari Raja Tekstil Jadi Korban Utang

Krisis Sritex, Dari Raja Tekstil Jadi Korban UtangIlustrasi Sritex. (Foto: Istimewa)

HYPEVOX – Sritex, atau PT Sri Rejeki Isman Tbk, pernah menjadi raja di industri tekstil dan garmen di Asia Tenggara. Mereka dikenal karena kualitas produknya yang tinggi dan ekspansi yang cepat. Namun, siapa sangka, perusahaan yang satu ini mengalami perubahan nasib yang sangat drastis.

Selama beberapa tahun terakhir, Sritex dihadapkan pada masalah utang yang menggunung hingga menyebabkan kebangkrutan. Saat pendapatan menurun hingga 35% di tahun 2021 akibat dampak pandemi, Sritex mendapati bahwa mereka terjebak dalam jaring utang yang sangat rumit.

Penurunan pendapatan yang drastis bukan sekadar angka, namun menggambarkan perjalanan panjang Sritex yang penuh ambisi.

Dalam beberapa tahun sebelum 2021, perusahaan ini melakukan berbagai ekspansi besar-besaran, seperti membeli mesin baru dan membuka pabrik tambahan, semua itu dibiayai dengan utang berbunga tinggi. Hal ini diibaratkan seperti melakukan lompatan jauh tanpa mengecek tanah terlebih dahulu.

Bangkrutnya Sritex: Menggali Akar Masalah

Saat kita menelusuri lebih dalam, ternyata kebangkrutan Sritex bukan hanya dipicu oleh satu faktor. Kombinasi dari berbagai masalah internal dan eksternal menjadi penyebab utama.

Dari sisi internal, ekspansi yang tidak terkendali dan manajemen utang yang kurang efektif sangat berpengaruh. Di sisi eksternal, pandemi COVID-19 datang sebagai bencana yang mengganggu rantai pasokan global dan menurunkan permintaan konsumen.

Dari tahun 2020 ketika pandemi mulai melanda, Sritex harus berjuang keras untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga.

Dengan permintaan yang menurun, mereka terpaksa mengajukan permohonan restrukturisasi utang melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada Mei 2021. Jumlah utang yang mencapai sekitar Rp12,9 triliun menjadi beban yang sangat berat bagi perusahaan ini.

Dampak Korupsi dan Tindakan Hukum

Di tengah krisis keuangan, situasi menjadi semakin rumit dengan munculnya berita mengenai dugaan tindak pidana korupsi.

Seorang tokoh penting dalam perusahaan, Iwan Setiawan Lukminto yang juga merupakan Direktur Utama, ditangkap oleh Kejaksaan Agung karena terlibat dalam skandal korupsi terkait pemberian kredit dari bank pemerintah kepada Sritex. Ketika pemimpin utama melanggar hukum, tentu situasi perusahaan semakin tidak menentu.

Kasus korupsi ini menambahkan lapisan kompleksitas terhadap permasalahan keuangan Sritex. Selain menghadapi beban utang yang terus menggunung, reputasi perusahaan pun tercoreng. Saat ini, utang perusahaan diperkirakan mencapai Rp25 triliun ke 28 pihak, dan masalah ini bukan hanya sekadar angka, tetapi juga mencerminkan krisis kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk investor dan pelanggan.

Proses Restrukturisasi yang Menantang

Setiap orang pasti ingin melihat cerita kebangkitan, tetapi untuk Sritex, proses restrukturisasi menjadi jalan yang sulit. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) seharusnya memberikan mereka kesempatan untuk kembali berdiri, namun tantangan yang dihadapi justru semakin menghalangi jalan kebangkitan tersebut. Mengelola utang dalam kondisi pasar yang bergejolak jelas bukan hal yang mudah.

Manajemen baru yang diharapkan mampu mengubah arah Sritex harus bekerja keras. Penataan finansial, pemotongan biaya, dan peningkatan efisiensi menjadi kebutuhan mutlak agar perusahaan ini bisa kembali bernafas. Namun, dengan reputasi yang tercemar dan utang yang menggunung, keberhasilan bukanlah hal yang bisa dipastikan.

Membangun Kembali Kepercayaan

Salah satu aspek yang paling krusial bagi Sritex ke depan adalah membangun kembali kepercayaan dari konsumen dan mitra bisnis. Tanpa kepercayaan, akan sangat sulit bagi mereka untuk mendapatkan akses ke modal yang diperlukan untuk memulihkan diri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Krisis Sritex, Dari Raja Tekstil Jadi Korban Utang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!