Ilustrasi Pakistan. (Foto: Istimewa)
HYPEVOX – Baru-baru ini, Pakistan mengalami cuaca super ekstrem dengan suhu yang mencapai hampir 46 derajat Celsius!
Bisa dibayangkan betapa panasnya? Bukan hanya sekedar panas, ini adalah gelombang panas yang bikin penduduk setempat merindukan angin sepoi-sepoi.
Suhu biasanya tinggi di saat musim panas, tapi kali ini datang lebih awal, membuat banyak orang khawatir tentang dampak yang ditimbulkan.
Setelah suhu ekstrem ini, badai datang menghampiri dengan angin kencang dan hujan deras.
Ironis, ya? Dari panas menggila ke badai menggeruduk, menyebabkan kebingungan di berbagai daerah, terutama di Punjab.
Laporan menyebutkan setidaknya 14 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 100 terluka akibat dampak dari cuaca ekstrim ini.
Punjab menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak. Di sini, cuaca panas sangat intens, hingga mencapai titik rekor.
Pria bernama Mazhar Hussain dari otoritas manajemen bencana setempat menjelaskan betapa sulitnya kondisi ini bagi warga.
Biar kita ingat, Pakistan biasanya baru memasuki musim panas di bulan Juni, tapi kini sudah kebakaran panas di bulan Mei.
Suhu yang sangat tinggi bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti heat stroke atau dehidrasi. Kesehatan banyak orang jadi terancam.
Tidak hanya itu, suhu panas juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan memperumit situasi keamanan pangan. Bagaimana enggak? Tanaman cabe dan sayuran pun bisa kesulitan tumbuh di cuaca ekstrem.
Fenomena gelombang panas mulai jadi hal yang biasa terjadi di Pakistan. Setiap tahun, saat memasuki musim panas, suhu cenderung naik dengan drastis.
Ternyata, ini terkait dengan perubahan iklim yang memengaruhi pola cuaca di seluruh dunia. Perubahan ini bisa menyebabkan lebih banyak gelombang panas di masa mendatang.
Jadi, bukan cuma soal cuaca, tapi juga kita perlu aware tentang dampak perubahan iklim yang bisa memengaruhi suasana hidup kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: