BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 16 JULI 2025 • 13:10 WIB

Kebijakan Deportasi Kontroversial di AS: Percepatan Tindakan Dalam Waktu Enam Jam

HYPEVOX – Pemerintahan Presiden Donald Trump baru saja merilis kebijakan yang memicu banyak perdebatan, yang memungkinkan deportasi migran dalam waktu enam jam. Dengan kebijakan baru ini, deportasi dapat dilakukan tanpa proses hukum tambahan ke negara ketiga.

Sebelumnya, otoritas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) memberikan waktu 24 jam bagi migran untuk berkonsultasi dengan pengacara sebelum proses deportasi dilakukan. Namun, sebuah memo terbaru yang ditandatangani pada 9 Juli oleh Penjabat Direktur ICE Todd Lyons menunjukkan potensi percepatan deportasi besar-besaran di AS.

Kebijakan Deportasi Mendadak

Dalam memo yang dirilis baru-baru ini, diungkapkan bahwa dalam ‘keadaan mendesak’, migran dapat dideportasi setelah diberi informasi mengenai hak mereka untuk berkonsultasi dengan pengacara. Laporan dari Washington Post menyebutkan, ‘Memo ini menunjukkan bagaimana pemerintahan Trump bersiap memperluas jangkauan deportasi ke berbagai negara, bahkan yang tidak memiliki hubungan erat dengan migran.’

Langkah ini mengikuti keputusan Mahkamah Agung AS yang mencabut larangan deportasi ke negara ketiga yang sebelumnya dihalangi dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia. Dalam implementasinya, delapan migran dari negara seperti Kuba, Laos, dan Vietnam baru-baru ini dipindahkan ke Sudan Selatan.

Tidak hanya ke Sudan Selatan, pemerintah AS juga telah meminta lima negara Afrika untuk menerima migran yang dideportasi dengan jaminan bahwa mereka tidak akan mengalami penyiksaan atau penganiayaan. Ini menimbulkan kekhawatiran besar tentang perlindungan hak asasi manusia yang seharusnya menjadi prioritas dalam setiap kebijakan.

Tantangan Hukum dan Reaksi Publik

Kebijakan ini mendapat kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Trina Realmuto, seorang pengacara dari Aliansi Litigasi Imigrasi Nasional, yang menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan ‘risiko serius bagi keselamatan dan kehidupan para migran.’ Dia mewakili sekelompok migran yang sedang menggugat kebijakan deportasi kilat ini.

Advokat imigrasi menilai kebijakan ini tidak manusiawi karena banyak migran tidak memiliki ikatan sosial, budaya, atau bahasa di negara tujuan baru mereka. Di sisi lain, pemerintah berargumen bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mempercepat proses pemindahan migran tanpa izin tinggal atau catatan kriminal yang jelas.

Pada masa pemerintahannya yang lalu, Trump juga menerapkan kebijakan serupa dengan mengirim migran dari El Salvador dan Honduras ke Guatemala. Berbeda dengan itu, pemerintahan Joe Biden memiliki kesepakatan dengan Meksiko untuk menerima migran dari negara-negara yang sulit dipulangkan secara langsung.

Kasus Kilmar Abrego Garcia

Memo ICE terbaru ini juga digunakan sebagai bukti dalam kasus hukum Kilmar Abrego Garcia, seorang penduduk Maryland yang dideportasi ke El Salvador dengan cara yang dipertanyakan. Kasus Garcia semakin menyoroti risiko yang dihadapi individu akibat kebijakan ini.

Masyarakat di AS kini semakin mengkhawatirkan dampak kebijakan baru ini terhadap jutaan migran yang tinggal di negara tersebut. Pertanyaan yang tak terelakkan adalah apakah langkah ini akan efektif sebagai solusi atau justru memperburuk situasi yang ada saat ini.

Dengan berbagai kritik dan tantangan hukum yang muncul, masa depan kebijakan imigrasi di AS terus menjadi topik hangat yang perlu diperhatikan oleh semua pihak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kebijakan Deportasi Kontroversial di AS: Percepatan Tindakan Dalam Waktu Enam Jam

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!