HYPEVOX – Quarter life crisis menjadi fenomena yang banyak dialami oleh individu berusia 20-an hingga 30-an tahun. Banyak yang merasa bingung dengan arah hidup mereka dan apa yang ingin dicapai di masa depan.
Quarter life crisis seringkali didefinisikan sebagai periode ketidakpastian yang dihadapi oleh individu berusia sekitar 20 hingga 30 tahun. Di fase ini, banyak orang mulai mempertanyakan kehidupan profesional, hubungan, dan tujuan jangka panjang.
Perubahan besar, seperti selesai kuliah dan mulai bekerja, dapat memicu rasa cemas dan bingung dalam menentukan langkah selanjutnya. Menurut penelitian, sekitar 50% hingga 80% orang dewasa muda mengalami quarter life crisis, menunjukkan tantangan yang dialami bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
Salah satu penyebab utama quarter life crisis adalah tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Teman sebaya yang langsung meraih kesuksesan membuat sebagian orang merasa tertinggal dan tidak cukup baik.
Ekspektasi dari keluarga dan masyarakat tentang pendidikan, karir, dan kehidupan pribadi semakin menambah beban mental. Tak jarang, banyak yang merasa diwajibkan untuk memiliki rencana hidup yang jelas, meski mereka sendiri belum tahu apa yang diinginkan.
Tantangan ekonomi pun berkontribusi pada fenomena ini, di mana mencari pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi dan passion seringkali menjadi hal yang sulit, menyebabkan banyak yang merasa frustrasi.
Menghadapi quarter life crisis bukanlah hal yang mustahil. Pertama-tama, penting untuk menyadari bahwa merasa bingung adalah hal yang umum dan bukan tanda kegagalan.
Salah satu langkah yang dapat diambil untuk mengatasi krisis ini adalah dengan melakukan eksplorasi diri. Ini bisa dilakukan melalui kursus, magang, atau bahkan konsultasi dengan mentor untuk menemukan minat dan kemampuan yang sebenarnya.
Selain itu, komunikasi dengan orang lain yang juga mengalami situasi serupa dapat sangat membantu. Mencari dukungan dari teman atau kelompok yang memiliki pengalaman yang sama bisa memberikan perspektif baru dan rasa solidaritas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: