Belakangan ini, konsep 'soft parenting' semakin populer di kalangan orang tua di Indonesia, muncul dalam berbagai forum dan seminar parenting.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor Setelah Pencabutan Instruksi WFH
Pendekatan yang lebih lembut ini sering dipertanyakan efektivitasnya, apakah hanya sekadar tren atau memiliki dampak yang nyata dalam pengasuhan.
Apa itu Soft Parenting?
Soft parenting adalah pendekatan yang menekankan komunikasi yang lembut dan empati antara orang tua dan anak. Pendekatan ini berupaya untuk memahami perasaan anak dan mendiskusikan perilaku yang perlu diperbaiki ketimbang menerapkan hukuman.
Konsep ini muncul sebagai alternatif bagi gaya pengasuhan tradisional yang biasanya mengedepankan disiplin lebih keras. Melalui soft parenting, diharapkan orang tua dapat membangun hubungan yang lebih solid dengan anak.
Riset menunjukkan bahwa pendekatan ini berpotensi membuat anak merasa lebih dihargai dan didengarkan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka. Banyak orang tua melaporkan adanya perubahan positif pada perilaku anak mereka setelah menerapkan metode ini.
Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Implementasi Soft Parenting di Indonesia
Di Indonesia, semakin banyak orang tua yang menerapkan soft parenting, menyadari bahwa pendekatan tradisional kini kurang relevan. Berbagai komunitas dan grup diskusi terbentuk untuk mendukung penerapan metode ini.
Buku dan seminar tentang soft parenting semakin banyak diterbitkan, menawarkan panduan serta teknik yang bermanfaat bagi orang tua. Tren di media sosial, seperti #SoftParenting, juga meningkat, di mana banyak orang tua berbagi pengalaman mereka.
Akan tetapi, tantangan tetap ada. Beberapa orang tua mengalami kesulitan dalam menerapkan soft parenting, terutama jika mereka dibesarkan dengan norma pengasuhan yang berbeda. Terdapat persepsi bahwa pendekatan ini kurang disiplin.
Apakah Soft Parenting Efektif?
Banyak studi menunjukkan bahwa soft parenting efektif dalam meningkatkan hubungan antara orang tua dan anak. Hal ini terjadi karena anak merasa lebih nyaman untuk berbagi perasaan dan masalah mereka dengan orang tua.
Namun, efektivitas pendekatan ini sangat bergantung pada konsistensi dalam penerapan dan lingkungan keluarga. Anak yang terbiasa dengan disiplin keras mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan metode ini.
Pada akhirnya, tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua anak. Kombinasi dari berbagai metode mungkin menjadi solusi terbaik, dengan mempertimbangkan situasi dan karakter anak yang beragam.
Baca juga: Manchester United Resmi Rekrut Kiper Senne Lammens, Akhiri Pencarian Emiliano Martinez
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: