Di tengah era digital saat ini, estetika menjadi sesuatu yang sangat dihargai oleh generasi muda. Banyak dari mereka bergegas mengejar standar kecantikan yang dianggap ideal, sering kali mengorbankan keunikan diri sendiri.
Baca juga: ASN DKI Jakarta Kembali Bekerja di Kantor Setelah Pencabutan Instruksi WFH
Dengan adanya media sosial, pergeseran dalam penampilan dan interaksi masyarakat semakin nyata. Kini, banyak yang bertanya-tanya, sebenarnya, apakah kecantikan harus selalu mengikuti satu standar yang seragam agar bisa diterima?
Perkembangan Estetika di Kalangan Anak Muda
Konsep estetika di kalangan anak muda mengalami perubahan besar seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Platform seperti Instagram dan TikTok menjadi tempat anak muda mengekspresikan diri, tetapi di sisi lain, turut membentuk standar kecantikan yang tidak realistis.
Banyak influencer dan selebritas yang memiliki banyak pengikut berperan dalam membentuk ekspektasi tersebut. Sebuah studi mengungkapkan bahwa sekitar 70% anak muda merasa tertekan untuk mencapai standar kecantikan yang ditetapkan di media sosial.
Baca juga: Google Respon Terkait Masalah Keamanan Gmail dan Aktivitas Phishing
Dampak Obsesif terhadap Kecantikan
Kecanduan akan estetika berdampak besar pada kesehatan mental, termasuk munculnya kecemasan dan depresi. Lembaga kesehatan mental melaporkan bahwa 40% remaja menunjukkan tanda-tanda depresi ketika merasa tidak dapat memenuhi ekspektasi kecantikan yang berlaku.
Selain itu, tekanan untuk tampil sempurna sering kali membuat mereka mengambil risiko berbahaya, seperti penggunaan produk pemutih kulit yang tidak aman. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang keindahan yang lebih luas dan bervariasi.
Mendorong Keberagaman dalam Estetika
Di industri mode dan kecantikan, semakin banyak upaya untuk mendorong keberagaman dalam pemasaran. Kampanye yang merayakan semua jenis wajah, bentuk tubuh, dan warna kulit menunjukkan dampak positif di pasar.
Contohnya, beberapa merek kini mulai menampilkan model dengan beragam ukuran dan warna. Seorang pakar pemasaran mengatakan, 'Konsumen saat ini lebih cenderung berbelanja pada merek yang berdiri di atas nilai keberagaman.'
Baca juga: Pemeriksaan Yaqut Cholil Qoumas Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: