Fenomena Belanja Online: Ketika Diskon dan Iklan Memicu Pembelian Impulsif
Belanja online semakin menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat, namun banyak yang terjebak dalam pembelian tak terencana. Fenomena ini menciptakan masalah baru, terutama dalam pengelolaan keuangan.
Baca juga: DPR Hentikan Tunjangan Perumahan Mulai 31 Agustus 2025
Dari diskon menarik hingga iklan yang menggoda, hal-hal ini sering kali memicu keputusan berbelanja yang impulsif. Mari kita lihat lebih dalam kenapa ini bisa terjadi.
Iklan yang terus menerus keluar di media sosial memiliki dampak besar terhadap keputusan belanja. Banyak orang merasa tertekan untuk membeli suatu produk hanya karena melihatnya berulang kali.
Diskon yang terlihat besar juga menjadi daya tarik tersendiri. Sering kali, orang membeli barang hanya karena diskon, padahal mereka tidak membutuhkannya sama sekali.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Akurat
Belanja online sering kali dikaitkan dengan suasana hati. Ketika seseorang merasa stres atau bingung, belanja online bisa menjadi pelarian yang dianggap menyenangkan.
Tapi sebenarnya, sebagian besar orang tidak menyadari bahwa perasaan ini justru membawa mereka ke dalam siklus pengeluaran yang tidak sehat. Ketika belanja menjadi pelarian, kontrol diri bisa hilang.
Sekarang, berbelanja online semakin mudah dengan aplikasi yang bisa diakses kapan saja. Hal ini membuat impuls belanja semakin sulit untuk dikendalikan.
Proses checkout yang simpel tentu saja hanya memperkuat kebiasaan belanja impulsif, apalagi jika ada satu-click purchase. Tanpa terasa, saldo di rekening bisa berkurang drastis.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: