BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 22 OKTOBER 2025 • 15:16 WIB

Menggali Lebih Dalam tentang Toxic Positivity

Menggali Lebih Dalam tentang Toxic PositivityMenggali Lebih Dalam tentang Toxic Positivity

Di tengah berbagai tantangan hidup, ungkapan 'Semangat terus!' sering kali menjadi mantra populer yang diucapkan banyak orang. Meski terdengar positif, frasa ini dapat menyembunyikan realitas emosional lebih dalam yang justru menjadi beban tambahan.

Baca juga: Kampus Unisba dan Unpas Bantah Keberadaan TNI-Polri Selama Kericuhan

Banyak yang tidak menyadari bahwa memaksakan sikap positif bisa berkontribusi pada masalah mental yang lebih besar. Ketika diajarkan untuk selalu tersenyum, perasaan asli kita sering kali terpinggirkan.

Memahami Toxic Positivity

Toxic positivity adalah fenomena di mana individu merasa tertekan untuk menunjukkan sikap positif yang berlebihan, meskipun ada perasaan negatif yang muncul. Ungkapan-ungkapan yang menanggapi masalah dengan optimisme ekstrem sering kali berkontribusi pada kondisi ini.

Di dalam kultur masyarakat, mengungkapkan emosi negatif sering dianggap tabu. Padahal, hal ini membuat banyak orang terpaksa menekan emosi mereka, berujung pada ketidakpuasan dan kesedihan yang terpendam.

Dampak dari toxic positivity terbilang beragam, mulai dari stres mental hingga isolasi sosial. Penelitian menunjukkan bahwa mengabaikan perasaan negatif justru berisiko memperburuk kondisi psikologis seseorang.

Baca juga: Kerusuhan Pecah di Bandung, Gas Air Mata Diluncurkan oleh Aparat

Bagaimana Toxic Positivity Mempengaruhi Kesehatan Mental

Orang yang terpapar sikap positif berlebihan sering kali merasakan beban yang terus meningkat. Ada kecenderungan merasa gagal ketika tidak bisa mencapai tingkat kebahagiaan yang diharapkan, yang dapat mengarah pada depresi dan kecemasan.

Dari perspektif psikologi, menghindari emosi negatif mencegah individu untuk berkembang. Dr. Brené Brown menekankan, 'Kerewelan menjadi bagian dari pengalaman manusia, dan mengabaikan hal itu justru bisa merugikan.'

Terokai lebih dalam, hubungan sosial pun dapat terganggu akibat toxic positivity. Jika seseorang hanya mendengar ungkapan positif tanpa memahami perjuangan orang lain, komunikasinya bisa menciptakan jarak emosional yang signifikan.

Cara Menghadapi Toxic Positivity

Langkah awal dalam menangani toxic positivity adalah dengan mengakui perasaan secara jujur. Ini meliputi penerimaan bahwa kadang kala, tidak ada yang salah dengan merasa sedih atau frustrasi.

Menciptakan lingkungan yang mendukung di mana semua emosi dapat dibicarakan adalah langkah penting. Berbicara dengan orang terdekat mengenai perasaan bisa mengurangi beban psikologis yang dirasakan.

Terakhir, penting untuk menetapkan batasan terhadap interaksi yang negatif. Saat seseorang mengekspresikan sikap positif berlebihan tanpa menghargai perasaan kita, menyampaikan ketidaknyamanan sudah sepantasnya agar komunikasi tetap sehat.

Baca juga: Sherina Munaf Selamatkan Kucing dari Insiden Perampokan Rumah Uya Kuya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Menggali Lebih Dalam tentang Toxic Positivity

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!