Tantangan 'Exposure' dalam Dunia Kreatif: Antara Janji dan Kenyataan
Di era digital sekarang, tawaran 'exposure' menjadi hal biasa bagi profesi kreatif, namun hipertensi dalam pembayaran ini juga memunculkan banyak persoalan.
Baca juga: Sidang Etik Polri Terkait Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Banyak pekerja seni, desainer, dan penulis terjebak dalam janji akan popularitas, yang ternyata sering kali tidak membawa imbalan yang diharapkan.
'Exposure' merujuk pada kesempatan yang diberikan untuk mendapatkan perhatian publik terhadap karya seseorang.
Bentuk tawaran ini biasanya berupa kolaborasi, pameran, atau publikasi yang diharapkan dapat mempromosikan nama serta karya kreator.
Sayangnya, tawaran ini sering kali tidak mencerminkan nilai pasar yang sebenarnya, membuat banyak kreator terjebak dalam harapan yang tak kunjung terwujud.
Sebuah studi menunjukkan bahwa sebagian besar kreator yang menerima tawaran ini tidak merasakan peningkatan signifikan dalam karir mereka.
Salah satu konsekuensi dari tawaran ini adalah berkurangnya nilai atas pekerjaan kreatif, karena semakin banyak orang yang menerima tawaran serupa.
Baca juga: Komnas HAM Temukan Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Tawaran 'exposure' juga disalahartikan oleh klien sebagai alternatif murah, yang berujung pada tarif yang semakin rendah bagi para profesional.
Dari segi kesehatan mental, para kreator mengalami frustrasi dan perasaan tidak dihargai, yang bisa menyebabkan berkurangnya kualitas karya.
Konsekuensi lebih lanjut dapat mencakup pengunduran diri dari industri kreatif, yang berdampak pada inovasi dan keragaman dalam ekosistem kreatif.
Menghadapi tantangan ini, penting bagi kreator untuk memahami dan mengomunikasikan nilai atas karya mereka dengan tegas.
Edukasi mengenai hak dan nilai pekerjaan dapat mengurangi ketergantungan pada tawaran yang merugikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: