Ilustrasi Artificial Intelligence. (Foto: Istimewa)
HYPEVOX – Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit, dan di Indonesia, ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar. Biasanya, diagnosis malaria dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis yang memakan waktu dan kadang tidak akurat. Nah, dengan kemajuan teknologi, kita bisa memanfaatkan AI untuk mempercepat dan meningkatkan ketepatan diagnosis malaria. Sistem yang dikembangkan oleh BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) ini menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu tenaga kesehatan dalam mendeteksi parasit yang bikin kita sakit.
Teknologi AI hadir untuk menjawab tantangan dalam diagnosis malaria yang selama ini masih mengandalkan metode manual. Pembangunan sistem berbasis kecerdasan buatan ini bertujuan untuk menciptakan metode yang lebih cepat dan akurat. Bayangkan saja, jika dalam pemeriksaan mikroskopis saja bisa memakan waktu lama, dengan AI, proses ini bisa dipercepat tanpa mengorbankan hasil yang tepat. Peneliti optimis bahwa teknologi ini bisa menjadi alat yang sangat membantu, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
Sistem diagnosis malaria berbasis AI ini menggunakan teknik pengolahan citra untuk mengidentifikasi parasit di dalam sampel darah. Dengan pendekatan ini, teknik mikroskopis yang tradisional diimbangi dengan canggihnya analisis data oleh AI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini memiliki akurasi yang tinggi, dengan nilai prediktif positif mencapai 77,14 persen. Artinya, sistem ini tidak hanya bisa mendeteksi keberadaan parasit, tapi juga bisa membedakan jenis dan tahapan hidup parasit tersebut.
Dalam penelitian ini, AI berhasil mendeteksi beberapa jenis parasit malaria, seperti Plasmodium falciparum, P vivax, P malariae, dan P ovale. Deteksi ini sangat penting untuk menentukan langkah pengobatan dan menentukan tingkat keparahan penyakit malaria. Dengan pengenalan terhadap jenis parasit, tenaga kesehatan bisa memberikan terapi yang lebih efisien dan tepat sasaran, dan ini tentunya menjadikan proses penyembuhan lebih cepat bagi pasien.
Selain meningkatkan akurasi, penggunaan AI dalam diagnosis malaria juga bisa mengurangi beban kerja tenaga kesehatan. Dengan adanya sistem otomatis ini, dokter dan tenaga medis bisa lebih fokus pada perawatan pasien sambil mengandalkan teknologi untuk membantu diagnosis. Ini sangat berguna, terutama di daerah endemis seperti Papua dan Nusa Tenggara, tempat di mana tenaga medis sering terbatas dan kebutuhan akan solusi cepat sangat mendesak.
Diagnosis malaria berbasis AI adalah langkah inovatif yang bisa mendukung pengendalian malaria di Indonesia. Dengan potensi besar untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan diagnostik, diharapkan ke depannya kita bisa melihat penurunan jumlah kasus malaria. Hal ini tidak hanya akan menyelamatkan banyak nyawa tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah terdampak. Dengan dukungan teknologi, kita berpeluang besar untuk lebih dekat pada eliminasi malaria di tanah air.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: