Jumat, 24 JULI 2026 • 16:42 WIB

Mathias Muchus Sangat Emosional Jadi Ayah di Film ‘Istimewa’: Ada yang Salah dengan Hidup Kita Selama Ini

Author

Tangkapan Layar Film Istimewa (Instagram)

Aktor senior Mathias Muchus mengaku mendapatkan pengalaman berbeda ketika memerankan sosok ayah dalam film terbaru berjudul Istimewa. Bukan persoalan teknis akting atau penempatan kamera yang paling membekas baginya, melainkan kedekatan emosional dengan anak-anak penyandang disabilitas yang menjadi pusat cerita film yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 September 2026 itu.

Dalam film persembahan Kairos Pictures itu, Mathias berperan sebagai Pak Mahendra, sosok ayah sekaligus tempat pulang bagi anak-anak yang tinggal di Rumah Istimewa.

Mathias mengatakan, biasanya ia memasuki sebuah produksi dengan mempelajari struktur cerita, dramatika, karakter, dan kebutuhan teknis lainnya. Namun proses dalam film Istimewa justru dimulai dari pendekatan yang jauh lebih personal.

“Biasanya saya mulai itu dengan masalah teknis, cerita, kerangka cerita, dramatik, dan lain sebagainya. Tapi ini kita mulai dengan satu nuansa emosional. Ini jarang saya temui,” ujar Mathias Muchus.

Menurutnya, hal pertama yang disentuh dalam proses film tersebut bukan kemampuan seorang aktor, melainkan kedalaman mereka sebagai manusia.

“Jadi saya sebagai aktor, begitu juga Agus berkali-kali, awal yang disentuh itu adalah dalamnya kita sebagai manusia. Itu yang paling berkesan buat saya,” lanjutnya.

Para Pemain Film 'Istimewa' (Istimewa)

Sebulan Bersama Anak-anak Mengubah Cara Pandangnya

Mathias mengaku mengalami perubahan cara pandang setelah menjalani proses produksi selama kurang lebih satu bulan bersama para pemeran anak penyandang disabilitas.

Ia menyadari bahwa istilah “istimewa” bukan sekadar judul film atau pilihan kata untuk membungkus cerita. Sebutan tersebut, menurutnya, benar-benar menggambarkan kemampuan dan potensi yang dimiliki anak-anak itu.

“Anak-anak ini, yang tadinya kita sebut berkekurangan, setelah satu bulan saya bersama mereka, ternyata memang tepat kalau mereka itu disebut istimewa. Sangat tepat,” katanya.

Mathias merasa kagum karena enam anak penyandang disabilitas yang terlibat bukan berasal dari latar belakang aktor profesional. Meski demikian, mereka mampu menyelesaikan proses produksi dan memainkan peran penting dalam film.

“Dengan kemampuan mereka yang notabene bukan orang film, bukan aktor, tapi manusia yang punya potensi yang sama dengan kita yang kita anggap lebih normal. Hasilnya satu film jadi,” tuturnya.

Pengalaman tersebut membuat Mathias melihat bahwa kesempatan, bukan kemampuan, sering kali menjadi pembatas bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan potensi mereka.

Mengaku Terlibat Sangat Emosional

Mathias menegaskan, keterlibatannya dalam film Istimewa bukan sekadar menjalankan peran sebagai seorang ayah di depan kamera.

Ia mengaku larut sangat dalam secara emosional, bahkan perasaan tersebut masih tertinggal setelah proses produksi selesai.

“Saya terlibat sangat emosional ketika ikut di dalam produksi ini. Sampai detik ini saya masih merasakan bahwa ada yang salah dengan hidup kita selama ini,” ungkapnya.

Baginya, masyarakat terlalu terbiasa melihat kehidupan dari ukuran yang dianggap normal. Akibatnya, banyak orang lupa bahwa anak-anak penyandang disabilitas memiliki mimpi, kemampuan, perasaan, dan hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan.

Mathias berharap film tersebut dapat mengetuk sisi kemanusiaan penonton sekaligus menumbuhkan empati yang lebih besar.

“Mudah-mudahan film ini bisa membongkar hati kita yang paling dalam sebagai manusia untuk melihat, setidaknya merasa, dan menumbuhkan empati terhadap sesama manusia,” ujarnya.

“Nggak ada bedanya mereka dengan kita, nggak ada sama sekali. Sama,” sambung Mathias.

Apresiasi Pendekatan Film yang Tidak Eksploitatif

Mathias juga mengapresiasi pendekatan tim produksi yang dinilainya tidak menjadikan kehidupan anak-anak penyandang disabilitas sebagai bahan cerita yang murahan atau sekadar alat untuk mengundang rasa iba.

Ia menilai keterlibatan orang-orang yang memang telah lama hidup dan beraktivitas bersama anak-anak tersebut membuat cerita film Istimewa memiliki dasar yang jujur.

Menurut Mathias, anak-anak yang selama ini dikucilkan, dirundung, atau tidak memperoleh penerimaan justru dirangkul dan diberi ruang untuk tampil sebagai diri mereka sendiri.

Karena itu, ia meminta film tersebut tidak hanya dilihat sebagai drama yang menjual kesedihan. Lebih dari itu, Istimewa membawa pengalaman nyata tentang penerimaan, kesempatan, dan keluarga.

Enam Anak Disabilitas Jadi Bagian Utama Cerita

Film Istimewa turut dibintangi Agus Kuncoro, Ence Bagus, Ajil Ditto, Yanni Melwani, serta enam anak penyandang disabilitas. Salah satunya adalah Aldi, yang mendapat peran penting dalam perjalanan cerita.

Kehadiran mereka tidak ditempatkan sebagai pelengkap. Anak-anak tersebut menjadi tokoh yang ikut menggerakkan cerita dengan karakter, keberanian, humor, serta mimpi masing-masing.

Film ini sekaligus menjadi gambaran bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk berkarya di industri perfilman Indonesia ketika mendapatkan kesempatan dan lingkungan yang mendukung.

Bagi Mathias Muchus, pengalaman memerankan Pak Mahendra akhirnya menjadi lebih dari sekadar pekerjaan sebagai aktor. Film tersebut membawanya pada perenungan tentang cara manusia memandang perbedaan, arti penerimaan, serta makna menjadi seorang ayah bagi mereka yang membutuhkan tempat untuk pulang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU