Timnas Indonesia (Instagram/TimnasIndonesia)
HYPEVOX – Di dunia sepak bola, khususnya dalam turnamen internasional seperti Kualifikasi Piala Asia U-23, sistem pengundian atau drawing sangat krusial untuk menentukan siapa yang akan bertemu siapa di pertandingan yang akan datang.
Pot 1 biasanya diisi oleh tim-tim yang memiliki prestasi terbaik atau peringkat tinggi, dan jika sebuah tim masuk ke pot ini, peluang mereka untuk menghadapi lawan yang lebih lemah semakin besar.
Bagi Timnas Indonesia U-23, masuk pot 1 seharusnya jadi target utama. Ini karena setelah penampilan yang cukup menggembirakan di Piala Asia U-23 2024, harapan untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dalam drawing tetap ada. Namun, baru-baru ini, keinginan itu terpaksa pupus.
Salah satu penyebab utama kegagalan Timnas Indonesia U-23 untuk masuk ke pot 1 adalah kebijakan baru yang ditetapkan oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Dalam kebijakan tersebut, penentuan unggulan tidak hanya dilihat dari satu edisi pertandingan, tetapi dari kombinasi tiga edisi sebelumnya.
Karena timnas Indonesia U-23 hanya berpartisipasi pada Piala Asia U-23 2024, prestasi yang dihasilkan tidak cukup untuk mengangkat posisi mereka ke pot 1. Hal ini membuat Indonesia harus puas di pot 2, yang tentunya mempengaruhi peluang mereka untuk mendapatkan lawan yang lebih mudah saat kualifikasi nanti.
AFC beralasan bahwa penilaian berdasarkan tiga edisi terakhir adalah langkah untuk memastikan azas keseimbangan dan keadilan. Dengan cara ini, dianggap lebih adil untuk melihat performa tim dalam beberapa tahun terakhir, bukan hanya dalam satu turnamen. Meski dari sudut pandang regulasi terlihat logis, ini jelas jadi tantangan bagi tim yang baru berkembang seperti Indonesia.
Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi PSSI dan timnas U-23 bahwa konsistensi dalam mengikuti berbagai turnamen dan meningkatkan performa secara berkelanjutan adalah kunci untuk bisa masuk ke pot yang lebih diunggulkan di masa mendatang.
Hasil positif di Piala Asia U-23 2024 semestinya bisa mengantarkan Timnas Indonesia U-23 ke pot 1 jika tidak ada perubahan kebijakan. Keberhasilan tim ini dalam mencapai semifinal menjadi suatu bukti bahwa potensi sepak bola Indonesia sebenarnya sangat menjanjikan.
Namun, perubahan kebijakan dari AFC yang berbasis pada performa historis justru menjadikan hasil dari satu edisi itu tidak sebanding dengan tuntutan yang dihadapi, membuat langkah Indonesia menjadi lebih sulit ke depannya.
Meski harus menempati pot 2, harapan untuk tampil di Piala Asia U-23 2026 tetap terbuka lebar. Dengan komposisi pemain muda berbakat seperti Marselino Ferdinan, Ivar Jenner, dan Justin Hubner, Timnas U-23 bisa jadi kuda hitam di turnamen ini. Kombinasi pengalaman dan talenta menjanjikan peluang yang cerah meski harus melewati babak kualifikasi yang lebih kompetitif.
Banyak penggemar yang berharap agar Timnas Indonesia U-23 dapat membuktikan bahwa mereka layak untuk berlaga di level yang lebih tinggi, meski melalui jalan yang lebih menantang.
Ke depan, PSSI perlu memikirkan strategi agar bisa bersaing di level internasional secara berkelanjutan. Meningkatkan frekuensi partisipasi di ajang-ajang internasional, memperkuat tim dengan pemain-pemain yang berkualitas, dan membangun mental juara menjadi langkah yang sangat penting.
Dan jangan lupa, dukungan dari para penggemar juga sangat berarti. Semangat satu bangsa bisa jadi modal besar bagi Timnas Indonesia U-23 untuk mencetak sejarah baru di kancah sepak bola Asia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: